RSS

Ideologi dan Pendidikan

09 Oct

Books-on-Fire-760466بسم الله

Pada pertengahan Abad 21 ditandai dengan adanya perang dan persaingan sengit antar ideologi di panggung sejarah. Mulai Bolsevisme dan marxsisme mewakili atheisme merah, fasisme dan Nazisme mewakili atheisme hitam dan kemudian demokrasi liberal mewakili ideologi pasar yang di motori para bangkir yahudi yang dikenal dengan kapitalisme. Sejak runtuhnya marxsisme, fasisme dan ideologi-ideologi lainnya maka demokrasi liberal yang merupakan sistem politik yang satu paket dengan  sistem ekonomi kapitalis menjadi hegemonik dan berjaya dalam struktur kekuasaan global. Hal tersebut digambarkan dengan arogan oleh Francis Fukuyama dalam tulisannya yang berjudul The End of history and The Last man.  (Akhir dari sejarah dan orang terakhir)

                “Kemenangan barat dan ide barat (Demokrasi Liberal), nampak jelas pertama-tama dengan keletihan total gagasan-gagasan yang telah di ajukan sebagai alternatif terhadap liberalisme barat. “

                Lebih jauh Francis Fukuyama menegaskan bahwa berakhirnya perang di ingin sebagai berakhirnya  sejarah dan peristiwa bersejarah. Hal ini mengambil ide dari Filusuf besar jerman Georg Wilhelm Friedrich Hegel, dimana dengan tersisihnya ideologi tandingan bagi demokrasi liberal menandakan telah berakhirnya proses dialektika pemikiran yang merupakan inti dari proses sejarah umat manusia. Kita simak cuplikan tulisan tersebut .

                Apa yang kita saksikan bukan saja berakhirnya perang dingin atau berlakunya suatu kurun waktu tertentu sejarah pasca perang dingin, tapi berakhirnya sejarah itu sendiri. ; yakni titik akhir evolusi ideologi manusia dan universalisasi demokrasi liberal barat sebagai bentuk akhir pemerintahan barat.

                Terlepas dari realitas kebenaran  isi dari tulisan francis fukuyama yang  masih debatable, ungkapan The End of History sangat populer di penghujung abad ke-21 dan telah menempatkan Francis Fukuyama sebagai ilmuan terpopuler pada periode 1990-an. Walau klaim yang bernuansa absolut tersebut tidak seluruhnya terbukti namun dalam realitas yang kita temui, liberalisme dan kapitalisme telah menjadi semakin hegomonik. Pengaruh dari perkembangan lanjut dari kapitalisme telah membawa dampak dan pengaruh yang cukup signifikan dalam berbagai aspek kehidupan kita. Dan yang ingin saya tegaskan disini adalah tidak terkecuali dunia pendidikan yang tidak berada dalam ruang yang hampa dan terisolir. Karenanya pendidikan sebagai entitas yang memiliki keterkaitan dengan aspek sosial, ekonomi dan politik  terkena dampak dari pengaruh kekuatan ideologi yang berkembang saat ini.

 B.   Implikasi Ideologi Kapitalis terhadap Pendidikan

             Perkembangan kapitalisme lanjut telah menciptakan kondisi bertautnya antara logika pendidikan dan logika kapitalisme (logic of capitalism). Logika kapitalisme tidak hanya menjangkiti dunia hukum, politik dan budaya namun lebih jauh lagi dunia pendidikan telah terinfeksi logika kapitalistik. Dengan segera infeksi logika kapitalistik tersebut telah mengubah pendidikan menjadi sebuah mesin kapitalis (capitalist machine) yakni mesin yang digunakan untuk memproduksi keuntungan dan mensin citra kapitalis yakni mesin yang digunakan untuk memproduksi citra (lembaga, individu dan pengetahuan) yang sesuai dengan citra kapitalis.

        Lembaga pendidikan tidak lagi menjadi sebuah lembaga dimana nilai-nilai sosial dan idealism dapat berkembang. Seharusnya lembaga pendidikan menjadi wadah dalam pengembaan sikap ilmiah (scientific), objektivitas dan semangat mencari kebenaran.  Maka kini lembaga pendidikan pendidikan menjadi tempat berkembangnya nilai-nilai komersial dan profit oriented. Dan kini menjadi semacam parody dari relasi pengetahuan/kekuasaan (power/Knowledge) menjadi relasi pengetahuan/keuntungan (Profit/knowledge). Pengetahuan tidak lagi diproduksi dalam semangat mencari kebenaran namun pengetahuan di produksi untuk mencari keuntungan. Pengetahuan telah berubah menjadi salah satu komoditi yang diperjual belikan dalam pasar konsumerisme. Lembaga pendidikan yang telah terkontaminasi virus kapitalisme maka ia akan menjadi alat hegemoni yang berfungsi melanggengkan dan mendukung hegomoni kapitalisme.

                      Konsep hegemoni, sebagaimana yang telah di jelaskan oleh Gramsci dalam Selection From Prison Notebooks, tidak hanya menjelaskan dominasi politik lewat kekuasaan (force), akan tetapi  juga dominasi kultural, lewat kepemimpinan intelektual dan moral (intelectual and moral leadership). Pendidikan telah berubah menjadi corong dominasi gagasan dan pemikiran, yang melalui terjadi semacam pengendalian dan penguasaan (pikiran, mental dan kesadaran) publik di dalam sebuah masyarakat. Hegemoni menciptakan semacam penerimaan publik terhadap sebuah gagasan (ideologi) yang disebarkan lewat berbagai bentuk institusi, termasuk institusi pendidikan. Karenanya pembentukan opini publik sangat sentral dalam konsep hegemoni, yang untuk itu dibutuhkan mediasi berupa ruang publik (publik sphere) dalam hal ini adalah institusi-institusi dan struktur material seperti lembaga pendidikan.

C.   Dominasi & Kekerasan simbol


Akibat dari dominasi ide & dan (ideologi) di ruang-ruang publik yang tidak terkecuali dalam institusi pendidikan. Maka terbuka peluang terjadi kekerasan simbol  (simbolic Violence) yang menjadi realitas sehari-hari didalam ruang-ruang publik.  Yakni sebuah mekanisme pemaksaan dan pencangkokak gagasan (ideologi) dalam kesadaran publik. Dalam buku Language & Symbolic Power,   pierre Bourdieu menjelaskan bahwa kekerasan simbol adalah bentuk kekerasan yang halus dan tidak tampak, yang menyembunyikan diri dibalik pemaksaan dominasi. Artinya dominasi (ide, gagasan, kekuasaan) dilakukan dengan cara yang sangat halus, sehingga tidak tampak sebagai sebuah pemaksaan dominasi. Dan karena  dbentuk-bentuk kekerasan simbol dilakukan oleh lembaga dan institusi yang diakui sebagai lembaga yang legitimate. Maka dominasi yang sebenarnya dipaksakan tersebut, dianggap tidak perlu di pertanyakan lagi (taken for granted).

Salah satu bentuk kekerasan simbol dan pemaksaan ideologi adalah di produksinya (diskursus) berbagai disiplin ilmu seperti ekonomi, manajemen, perbankan, akutansi, teknologi, arsitektur, art, sebagai produk ilmu yang dikembangkan dalam citra kapitalisme yakni ilmu-ilmu yang berfungsi untuk mendukung gagasan kapitalisme itu sendiri.  Artinya paradigma-paradigma keilmuan serta logika-logika yang dikembangkan didalamnya, mempunyai hubungan yang saling menghidupkan dengan logika-logika kapitalisme.

Dunia pendidikan yang terperangkap didalam citra kapitalistik maka ia hanya akan memproduksi citra lulusan, sesuai dengan citra yang dibutuhkan dalam sistem komersial kapitalisme yakni sistem yang menjadi menjadikan lulusannya link and match dengan dunia komerisial, pendidikan yang memaksa setiap orang menjadi pekerja, menjadi sekrup didalam sebuah mesin industrialisasi dan kapitalisme. Yakni model pendidikan yang menghambat terbentuknya mental kepeloporan (pionership), kepemimpinan (leadership), dan relegiusitas yang justru sangat penting dalam pembangunan SDM yang lebih baik.

Zul 9/10/13 

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on October 9, 2013 in Umum

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: